Just another WordPress.com site

Gallery

Histamin dan Anti Histamin

Assalamualaikum, kembali lagi dengan materi LTM di Pemicu 3 Modul Kulit dan Jaringan Penunjang. Well, pada pemicu kali ini topiknya berkaitan dengan ‘gatal (pruritus) non-infeksi… Secara umum, gatal itu disebabkan oleh zat yang bernama histamin, dan obat nya tentu bernama anti histamin. Gimana sih mereka berdua ini…

Selamat membaca!

Lembar Tugas Mandiri

Histamin dan Anti Histamin

Oleh Fauzan Hertrisno Firman, 1006658291

Histamin merupakan 2-(4-imidazol) etilamin, dibentuk dari prekursor histidin.1 Histamin bekerja dengan menduduki reseptor diantaranya reseptor histamin H1, H2, dan H3 dengan reseptor tersebut berhubungan dengan protein G. Aktivitas reseptor reseptor H1 yang terdapat pada endotel dan sel otot polos menyebabkan kontraksi otot polos, dan meningkatkan permeabilitas pembuluh darah. Efek kerja dari histamin, diantaranya:

1. Dilatasi kapiler1

Dilatasi dari kapiler ditimbulkan oleh reaksi histamin pada reseptornya. Akibatnya, timbulnya kemerahan (eritema) dan kepanasan pada daerah tersebut. Afinitas histamin sangat kuat terhadap reseptor H1, sehingga efek dilatasi berlangsung cepat. Pemberian AH1 (anti histamin -1) dengan dosis kecil menghilangkan dilatasi tersebut dalam waktu yang relatif singkat.

2. Permeabilitas kapiler1

Histamin meningkatkan permeabilitas kapiler akibat interaksi histamin dengan reseptornya. Akibatnya adalah protein dan cairan plasma sel mengalir ke ekstravaskuler sehingga terjadi edema.

3. Triple responses1

Bila histamin disuntikkan ke dermal, akan terjadi tiga kejadian berurutan, antara lain: kemerahan (eritema), flare (rasa gatal), dan edema.

4. Nyeri dan gatal1

Histamin menyebabkan rasa nyeri dan gatal ini akibat rangsangan terhadap ujung saraf sensoris yang menimbulkan refleks akson. Di ujung akson, histamin menduduki reseptor H1  Histamin dalam kadar rendah menyebabkan rasa gatal saja, sementara itu dalam kadar yang tinggi diikuti juga dengan rasa nyeri juga.

Histamin  (dari prekursor histidin) dengan menggunakan enzim L-histidin dekarboksilase. Tempat pembentukan utama histamin ini berada di sel mast, dan beberapa juga ditemukan di leukosit seperti basofil dan eosinofil. Histamin disimpan dalam secretory granules dimana di dalam granula tersebut histamin berada dalam bentuk yang tidak aktif (menyebabkan efek). Apabila terjadi pengeluaran histamin, granula penyimpan histamin akan membentuk histamin dalan kecepatan yang lambat.

Hal – hal yang menyebabkan histamin keluar dari granula nya1,2:

1. Reaksi anafilaktik dan alergi

Histamin yang dilepaskan ke luar sel menyebabkan vasodilatasi, gatal, dan edema. Pelepasan histamin ini merupakan perantara dari terjadinya reaksi alergi dan hipersensitivtas.

2. Zat kimia dan obat-obatan

Zat – zat dibawah ini memicu pengeluaran histamin, antara lain:

  1. Enzim kimotripsin, fosfolipase, dan tripsin
  2. Surface active agents yaitu deterjen, garam empedu, dan lisolesitin
  3. Racun dan endotoksin
  4. Polipeptida dan alkali jaringan
  5. Zat dengan berat molekul tinggi seperti ovomukoid, zimosan, serum kuda, ekspander plasma, dan polivinil pirolidon
  6. Zat yang bersifat basa yaitu morfin, kodein, meperidin, stilbamidin, propamidin, dimetiltubokurarin, d-tubokurarin
  7. Penyebab lain seperti termal, mekanik, dan radiasi pun dapat memicu penglepasan histamin. Pada keadaan tertentu (kepanasan atau kedinginan), sebagian orang dapat muncul gejala seperti edema, kemerahan, dan gatal pada kulitnya.

Anti-Histamin

Secara umum, anti histamin dikenal dalam bentuk dua generasi, tetapi ada yang membaginya dalam bentuk tiga generasi.2,3 Anti histamin bekerja dengan antagonis terhadap histamin,2 tetapi setelah diselidiki lebih lanjut dengan penemuan anti histamin yang berkembang (berkaitan dengan penemuan anti histamin generasi ke-dua) berupa inverse agonis.3 Antagonis dan inverse agonis mempunyai peranan berikatan dengan reseptor. Efek yang dihasilkan dari dua golonga tersebut berbeda yaitu: antagonis (meniadakan efek dari agonis), sementara itu inverse agonis (memberikan efek negatif atau berlawanan dari agonis). Contohnya. Jika histamin menimbulkan kapiler mengalami vasodilatasi, maka antagonis menyebabkan kapiler kembali ke ukuran normalnya dan inverse agonis menyebabkan kapiler mengalami vasokonstriksi.

Berikut nama anti histamin berdasarkan jenis generasinya2,3:

  1. Generasi pertama
    1. Etanolamin

-Karbinoksamin

– Difenhidramin

-Dimenhidrinat

B. Etilenediamin

– Pirilamin

-Tripelenamin

C. Piperazin

-Hidroksizin

-Siklizin

-Meklizin

D. Alkilamin

-Klorfeniramin

– Bromfeniramin

E. Fenotiazin

-Prometazin

F.Lainnya

-Siproheptadin

-Mebhidrolin napadisilat

  1. Generasi kedua
    1. Cetrizin
    2. Loratadin
    3. Astemizol
    4. Feksofenadin

Perbedaan antara generasi pertama dengan generasi kedua adalah generasi pertama menyebabkan efek sedasi dan anti kolinergik.

Farmakodinamik Anti Histamin2,3

Anti histamin reseptor H1 (AH-1) berikatan dengan reseptor sehingga menyebabkan reseptor tersebut tidak aktif. Efek yang ditimbulkan berupa pengurangan permeabilitas gatal dan mengurangi sensasi yang ditimbulkan oleh pruritus. Kerja secara umum ini dimiliki oleh anti histamin generasi pertama maupun kedua.

Tetapi pada generasi kedua, anti histamin ini memiliki kerja yang sedikit istimewa dimana dapat menghambat pengeluaran histamin dari kompleks granula. Obat generasi kedua ini menghambat transportasi kalsium baik difusi ke dalam sel maupun transportasi ion kalsium intra seluler. Perbedaan lain adalah efek anti histamin generasi pertama dapat masuk ke sistem saraf pusat. Efek yang ditimbulkan adalah efek sedasi. Hal ini dikarenakan menurunkan tingkat kewaspadaan.

Penggunaan generasi pertama ini menjadi bantuan untuk memudahkan tidur dan tidak cocok untuk anak-anak. Oleh karena itu dibuatlah generasi kedua untuk menekan efek sedasi yang diakibatkan oleh generasi pertama.

Farmakokinetik Anti Histamin2,3

Setelah diberikan secara oral, AH-1 diabsorbsi secara baik. Efeknya timbul 15-30 menit setelah pemberian oral dan maksimal 1-2 jam. Lama kerja AH-1 generasi pertama rata-rata selama 4-6 jam, tetapi derivat piperizin memiliki lama kerja selama 6-24 jam, sama dengan anti histamin generasi kedua. Setelah, diserap di ileum, AH-1 akan mengalami biotransformasi di tiga tempat yaitu: hati (dominan), ginjal, dan paru. Selama 24 setelah penggunaan, AH-1 akan dieksresi melalui urin dalam bentuk metabolitnya.

Referensi:

  1. Gawkrodger, David J. Dermatology: an ilustrated colour text. 3rd ed. Churcill Livinstone: Toronto;2002.
  2. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Farmakologi dan terapi. 5th ed. Balai Penerbit FKUI: Jakarta;2007
  3. Katzung, G Bertram. Basic and Clinical Pharmacology. 9th ed. McGraw-Hill:Singapore;2004.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s