Just another WordPress.com site

Gallery

Karsinoma Sel Basal

Assalamualaikum Wr, Wb.

Alhamdulillah, kelar juga pencarian bahan tentang salah satu keganasan (kanker) yang terjadi di kulit. Yuk, dibaca..

Karsinoma merupakan keganasan yang terjadi pada sel epitel, sedangkan sel basal merupakan selapis sel diatas lamina basal. Jadi, kumpulan sel yang selapis ini lah mengalami proliferasi tidak terkendali sehingga menyebabkan keganasan.1 Karsinoma merupakan kanker kulit yang sering ditemukan, diperkirakan adanya 500.000 kasus terdiagnosis per tahun. Karakteristik kanker ini berupa laju pertumbuhan yang lambat dan jarang bermetastasis. Pada karsinoma sel basal, tidak disertai perubahan pigmen yang berarti Walaupun melanosit terletak di lapisan basal, melanosit tidak ikut mengalami proliferasi yang tidak terkendali.

Karsinoma ini ditandai oleh perkembangan awal berupa papul dengan permukaan mengkilap dan disertai pelebaran pembuluh darah (telangiektasia).2 Setelah itu, berkembang menjadi nodul dengan tepi yang meninggi. Seiring perkembangan, di bagian tengah lesi mengalami ulserasi dan perdarahan. Karena perkembangan ulserasi semakin dalam, sering terjadinya invasi lokal dan menghasilkan perdarahan.2,3 Ketika karsinoma ini telah menyebabkan destruksi ke sekitar (otot wajah, tulang) ini disebut dengan ‘ulkus roden’. Ukuran lesi berawal dari ukuran milimeter (miliar) hingga berkembangan menjadi ukuran numular. Lesi juga bisa disertai eskoriasi jika mengalami trauma seperti goresan atau benturan.4

Ada tiga tipe dalam varian klinis:2

  1. Morfoik: Suatu pola pertumbuhan yang datar dan memiliki penampakan seperti jaringan parut. Dalam tipe ini, morfologi seragam sehingga tidak dapat dibedakan darimana lesi muncul pertama kali.
  2. Superfisial: Lesi soliter tumbuh dalam waktu tahunan, memiliki diameter sampai beberapa sentimeter (<2 cm).
  3. Berpigmen: Pigmentasi berupa bercak tetapi sangat padat (ukuran sangat kecil).

Faktor utama penyebab karsinoma ini yaitu adanya ekposur berlebihan sinar matahari. Spektrum sinar matahari yang karsinogen adalah sinar yang memiliki panjang gelombang berkisar 280-320 nm.1 Paparan sinar dengan kisaran gelombang ini memicu melanogenesis dan luka bakar derajat satu jika terpapar lama ke kulit. Faktor lain yang dapat menyebabkan karsinoma ini yaitu riwayat pengobatan radiologi sebelumnya untuk menyembuhkan penyakit kulit. Faktor seperti imunosupresi atau xeroderma pigmentosum (gangguan genetik terhadap gagalnya repair DNA) dapat meningkatkan kemungkinan untuk terjadinya karsinoma sel basal.4Walaupun banyak kasus terjadi pada pria, tetapi jenis kelamin bukanlah faktor resiko terhadap insiden karsinoma ini.

Secara histologi, sel tumor mirip dengan sel yang terdapat di lapisan basal. Karena berasal dari epidermis atau epitel folikel, tumor ini tidak ditemukan di permukaan mukosa. Pada perkembangan awal, sel-sel tumor tetap terikat di epidermis. Namun, seiring berjalannya waktu proliferasi mulai mengarah ke dermis dan akhirnya lepas dari epidermis dan membentuk pulau sel tumor di dermis. Tampak dua pola pada perkembangan sel tumor, yaitu3:

  1. Pertumbuhan multifokus: berasal dari epidermis dan meluas di permukaan kulit beberapa dalam ukuran sentimeter.
  2. Pertumbuhan nodular: tmbuh menjauh ke dalam menuju dermis sebagai pulau-pulau sel basofilik dengan nuleus hiperkromatik yang terbenam di dalam matriks dermis.

Di setiap pulau sel tumor (membentuk struktur nodul), dapat dilihat bagian perifer tersusun sel silinder secara radial dengan panjang satu sama lain. Kumpulan sel perifer ini disebut dengan sel palisade (pagar) karena susunan sel tersebut mengelilingi pulau sel tumor seperti membentuk pagar. Antara pulau sel tumor ada stroma yang menyelip, stroma yang berada dekat pulau sel tumor akan menciut sehingga terbentuklah celah (artefak pemisahan). Sel tumor tersusun atas sel dengan bentuk dan ukuran yang monoton. Nukleus umumnya lonjong, hiperkromatik, sitoplasma sedikit.3,4

Sekitar 80% dari karsinoma sel basal terjadi pada daerah terbuka yang biasanya terpapar langsung terhadap sinar matahari. Tempat yang sering terkena meliputi wajah, kepala, dan leher.4

Untuk menghindari terjadinya karsinoma sel basal, sama seperti menjaga kesehatan kulit pada umumnya. Bepergian ke luar dengan intensitas paparan sinar matahari tinggi beresiko, sehingga menggunakan topi, kemeja lengan panjang, ataupun celana panjang. Menggunakan tabir surya (minimal SPF 15) minimal 30 menit sebelum bepergian untuk proteksi kulit terhadap UV A dan UV B.4

Penanganan lanjut dari karsinoma ini berupa bedah kimia, skalpel bedah, dan radiasi. Hal pertama jika dicurigai adanya karsinoma sel basal adalah biopsi jaringan, lalu dilakukan pemeriksaan mikroskopik untuk menegakkan diagnosis. Setelah hasil dari biopsi menyatakan positif, segera dilakukan skalpel bedah (jika diameter <2 cm). Angak kesembuhan mencapai 90%. Radiasi digunakan untuk karsinoma dengan ukuran besar (diameter <5 cm). Bedah kimia berguna untuk mengobati karsinoma yang berinfiltrasi (pertumbuhan nodular), sering terjadi di sekitar telinga dan mata. Pada bedah kimia, eksisi dilakukan secara mikroskopik dengan memisahkan sel-sel tumor selapis demi selapis menggunakan skalpel. Setelah dilepaskan, jaringan langsung difiksasi untuk dibuat preparat mikroskopik dan dilihat apakah masih ada pulau sel tumor pada jaringan tersebut. Bedah kimia walaupun lama, dan mahal tetapi ini merupakan terapi yang hamipr semua nya sembuh (sekitar 97%).1,4

Hubungan dengan Pemicu:

Berdasarkan penjelasan tentang karsinoma sel basal dikaitkan dengan pemicu. Bapak Johan dicurigai menderita karsinoma ini. Analisanya:

  1. Gambaran awal (pemicu): benjolan datar berwarna agak kemerahan disertai gambaran pelebaran pembuluh darah. Hal ini sama dengan gambaran klinis awal karsinoma tersebut berupa papul eritematosa dengan telangiektasia.
  2. Gambaran pemeriksaan (pemicu): nodus pada cuping hidung dengan diameter 1,5 cm, tampak permukaan licin mengkilap disertai telangiektasia, terasa kenyal dan tidak nyeri tekan. Benjolan tersebut tumbuh membesar sehingga ukuran sekarang yaitu 1,5 cm. Sama seperti penjelasan sebelumnya, permukaan licin mengkilap disertai telangiektasia.
  3. Perkembangan karsinoma sel basal pada Bapak Johan belum sampai pada tahap ulserasi, dan di pemicu juga tidak disebutkan bahwa lesi pada hidungnya berdarah.

Referensi:

  1. Price, Sylvia A. Pathophysiology: clinical concepts of diseases processes. 6th ed.Elsevier Science: Mosby;2002.
  2. Graham, Robin. Burns, Tony Brown. Lecture notes on dermatology. 8th ed. Blackwell: Blackwell science; 2005.
  3. Kumar, Cotran, Robbins. Robbins basic pathology. 7th ed. New York: Elsevier Inc.2003.
  4. Thompson, Lester D R. Skin basal cell carcinoma. ENT-ear, nose and throat journal: September 2010: 418-420.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s