Just another WordPress.com site

Gallery

Osteomilitis Tuberkulosa

A. Etiologi

Penyebab pasti infeksi ini adalah Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri ini adalah bakteri batang aerob (berukuran 0,4 X 3 µm) yang tidak membentuk spora1. Bakteri ini juga disebut dengan basil tahan asam karena tidak terpengaruhi oleh pewarnaan tahan asam yang terdiri 95% etil alkohol dan 3% asam hidroklorat.

B. Patofisiologi

1. Penyebaran Mycobacterium Tuberculosis hingga ke tulang

Cara penularan Mikobakterium melalui udara (terbanyak), saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit2. Penderita TBC batuk, bakterinya ada sebagian yang ikut keluar ke udara dan ada juga yang berada di sputum. Selain batuk, bakteri tersebut juga bisa tertular ketika penderita bersin dan berbicara. Bakteri tersebut dapat bertahan beberapa jam di udara dan dapat mati secara cepat terhadap paparan sinar matahari. Pada anak infeksi disebabkan oleh penularan dari orang dewasa yang disekitarnya. Di dalam perjalanan tersebut, bakteri berkembang biak hingga memasuki peubuluh darah dan limfa2. Oleh karena itu, bakteri ini dapat singgah di organ manapun seperti: usus, kulit, paru, tulang, mening, dan sebagainya. Memang sebagian besar kasus TBC adalah TBC paru karena penularannya melalui udara yang berarti paru merupakan organ terdekat yang bisa diinfeksi.

Setelah masuk ke sistem sirkulasi, bakteri dapat menyebabkan infeksi di tempat lain termasuk di tulang. Dalam aliran darah di tulang terjadi perbedaan kecepatan aliran darah karena perubahan-perubahan alur pembuluh darah di tulang2. Pada diafisis, laju aliran darah akan maksimal hingga masuk ke daerah metafisis perlahan turun karena pembelokan alur tulang beserta pembuluh darah. Di daerah metafisis, aliran darah yang lambat cenderung membuat endapan bakteri dan berpindah ke jaringan lokal2. Dari sinilah, osteomilitis (infeksi tulang) dimulai oleh bakteri ini.

2. Reaksi Inflamasi

Reaksi radang yang terjadi merupakan inflamasi kronik karena agen penyebab merupakan mikroba persisten dan menimbulkan reaksi granulomatosa pada jaringan tulang3. Sel radang yang pertama kali direkrut beruma makrofag. Makrofag berasal dari monosit (di dalam vaskular) berubah menjadi makrofag di jaringan (di luar vaskular). Makrofag merupakan monosit yang berubah menjadi sel dengan ukuran lebih besar dengan aktivitas lisosom yang semakin aktif; di infeksi ini disebut dengan makrofag epiteloid.

Selanjutnya, makrofag mengeluarkan sinyal berupa IL-1 dan TNF untuk membuat limfosit bergerak ke arah tempat infeksi. Setelah limfosit teraktivasi, limfosit mengeluarkan sinyal IFN-γ untuk mengaktivasi makrofag lainnya3. Hal ini berlangsung terus menerus hingga jaringan yang dihuni oleh bakteri tersebut menjadi area fokus limfosit-makrofag. Makrofag epiteloid tersusun mengelilingi bakteri dan membentuk struktur yang disebut dengan sel datia langhans. Karena adanya inflamasi dan menimbulkan nekrosis perkijiuan di tempat bakteri tersebut berada. Nekrosis inilah yang menyebabkan pengrusakan dari parenkim tulang sehingga densitas tulang menurun.

Selama bakteri nya belum hilang dari jaringan tersebut (tulang yang terinfeksi), limfosit dan makrofag terus direkrut dan otomatis IL-1 dan TNF kadarnya juga tinggi. Efek sistemik yang diakibatkan berupa: demam, keinginan tidur meningkat, dan nafsu makan menurun.3

Referensi:

  1. Jawetz, Melnick, Adelberg. Mikrobiologi kedokteran. 23rd ed. EGC: Jakarta; 2007.
  2. Price, Sylvia A. Pathophysiology: clinical concepts of diseases processes. 6th ed.Elsevier Science: Mosby;2002.
  3. Kumar, Vinay. Cotran, Ramzi S. Robbins, Stanley S. Buku ajar patologi. 7th ed. EGC: Jakarta; 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s