Just another WordPress.com site

Gallery

Jamur pada Kulit: Dermatofit dan Non-Dermatofit

Dermatofit dan non-dermatofit ini termasuk dalam kategori jamur yang menginfeksi daerah superfisialis kulit (epidermis).1 Perbedaan kedua tipe ini dalam menginfeksi adalah posisi (kedalaman). Dermatofit bisa menginvasi ke dalam lapisan epidermis; gangguan dapat ditemukan mulai dari stratum basal sampai stratum korneum. Non-dermatofit hanya bisa menginfeksi sampai lapisan paling luar dari stratum korneum.1 Perbedaan ini disebabkan jamur dermatofit ini mengeluarkan zat tertentu (lipofilik dan proteofilik) untuk membuat epidermis ruptur, sementara non-demartofit tidak mempunyai zat ini. Untuk kedua jamur ini, pemeriksaan tidak dilakukan pada histopatologi, tetapi cukup untuk menemukan jamur (terutama hifa) dalam sediaan kulit yang dicurigai terinfeksi jamur.1

Dermatofit

Jamur dalam kategori ini diklasifikasikan dalam tiga genus antara lain: Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton.2 Cara penularan jamur ini ada dua cara yaitu langsung (epitel atau rambut yang terinfeksi jamur) dan tidak langsung (air atau pakaian yang ada jamur). Pembagian kelainan: kata pertama adalah ‘tinea’ dan diikuti oleh kata kedua yang menyatakan lokasi tubuh yang terinfeksi. Macam-macam tinea adalah sebagai berikut:

Tinea pedis (athlete’s foot / kutu air)2,3,4

Jamur yang menyebabkan adalah Trichophyton rubrum, Trichophyton mentagrofites, dan Epidermophton flokosum.Jamur ini menyerang daerah tangan dan kaki terutama daerah telapak dan sela-sela jari. Infeksi ini menular dari adanya kontak dengan debris keratin yang terinfeksi jamur di tempat yang kelembaban tinggi (lingkungan berair) ataupun tertutup. Kelompok yang sering terserang adalah petani, tukang cuci, dan tentara yang sering memakai sepatu tertutup. Penyebaran dari telapak kaki bisa sampai ke sela-sela jari dan bagian lateral kaki.

Morfologi yang muncul infeksi ini adalah:

  1. Intertriginosa

Morfologi yang tampak berupa skuamasi dan erosi pada celah jari, terutama antara jari ke-4 dan ke-5. Celah jari merupakan area yang lembab sehingga memungkinkan jamur tersebut hidup dengan lebih subur. Jika infeksi kronis, morfologi yang tampak berupa fisura, dimulai dari rasa gatal sampai nyeri bila tertekan.

2. Hiperkeratosis

Penebalan kulit terutama di daerah telapak kaki dan bagian lateral telapak kaki. Jika infeksi kronis, fisura juga dapat muncul pada area yang mengalami penebalan tersebut.

3. Vesikular subakut

Jenis ini diawali dengan infeksi di daerah sela-sela jari, dan menyebar ke daerah telapak kaki dan punggung kaki. Vesikel dan bula muncul di daerah yang terinfeksi disertai dengan gatal yang sangat hebat. Jika vesikel pecah, akan meninggalkan skuama melingkar disebut dengan collorette.

Pencegahan:

-Menggunakan alas kaki di daerah yang berair (lembab) (kamar mandi, kolam renang, dll)

-Mengeringkan seluruh badan termasuk kaki/tangan serta sela-sela jari setelah mandi ataupun aktivitas yang mengeluarkan keringat.

-Memakai sepatu yang nyaman; tidak terlalu panas ataupun sempit.

Jamur penyebab tinea pedis jika menginfeksi daerah tangan disebut dengan tinea manum.

Tinea kruris2,3

Jamur yang menyebabkan adalah Epidermophyton flokosum, Trichophyton rumbrum, dan Trichophyton mentagrofites. Infeksi ini akan menimbulkan rasa gatal dan kepanasan (burning) yang hebat dan intensitas gatal meningkat seiring banyaknya keringat (kelembaban) di area yang terinfeksi. Morfologi yang tampak pada infeksi akut adalah makula dengan eritematosa, jika disertai garukan menimbulkan erosi dan eskoriasi, tepi lesi tampak tegas dan aktif, pada tepi lesi dijumpai adanya pustul dan vesikel. Infeksi kronis memberikan gambaran berupa makula dengan hiperpigmentasi, disertai juga dengan skuamasi dan likenifikasi. Daerah yang sering terinfeksi adalah lipatan, terutama di: paha bagian dalam (selangkangan), perut bagian bawah, daerah sekitar anus yang rata-rata memiliki kelembaban yang tinggi. Penularan infeksi ini biasanya dimulai dari kaki sehingga infeksi ini adalah kelanjutan dari tinea pedis, tetapi bisa juga tidak disertai dengan tinea pedis. Pola penyebaran ini tergantung dari perilaku penderitanya. Kebersihan merupakan faktor utama mencegah infeksi jamur, handuk maupun pakaian yang kotor dan lembab berpindah ke bagian tubuh dan tumbuh subur di daerah yang lembab.

Tinea korporis2,4

Jamur yang menyebabkan adalah  violaseum, Trichophyton rubrum, Trichophyton metagrofites, Microsporum gipseum, Microsporum kanis, Microsporum audolini. Infeksi menyerang daerah dada, ekstremitas, dan wajah. Morfologi yang ditemukan berupa lesi anular dengan skuama, berbatas tegas dan eritematosa dan daerah di tengah tampak lebih bersih dengan dijumpai papul, pustul, vesikel di tepi lesi serta rasa gatal.

Tinea unguium (onikomisis)2,3,4

Jamur yang menyebabkannya adalah Epidermophyton flokosum, Trichophyton rumbrum, dan Trichophyton mentagrofites. Infeksi jamur ini menyerang terutama di kuku tangan atau pun kaki. Kuku menebal kemudian diikuti kerapuhan dan tidak mengkilap. Hal ini diakibatkan jamur ini mengeluarkan zat tertentu pada epidermis, tetapi ini terjadi pada kuku sehingga keratin terurai dan hancur. Kuku yang rapuh dan hancur dapat ditemu di daerah hiponikhium dan bersifat lama untuk disembuhkan. Ketika penderita memakai sepatu, kuku yang menebal akan bersentuhan dengan sepatu menimbulkan rasa nyeri (tidak nyaman). Ada tiga tipe dalam infeksi ini, antara lain:

– Subinguinal proksimal: infeksi dimulai dari pangkal kuku

– Subinguinal distal: infeksi dimulai dari ujung kuku

-Leukonikia trikofita: infeksi dimulai dari bawah kuku (hiponikhium)

Tinea kapitis2,3,4

Infeksi ini menyerang daerah kulit kepala. Penyebaran infeksi ini terutama pada anak menjelang pubertas, diakibatkan akitivitas sebum yang meningkat signifikan. Asam lemak pada sebum cenderung disukai jamur sebagai nutrien baginya. Jamur yang menyebabkannya adalah Microsporum canis, Tricophyton violaceum, Tricophyton tonsurans yang biasanya ditularkan melalui hewan peliharaan seperti kucing maupun anjing.

Ada empat tipe pada tinea kapitis yaitu:

  1. Gray patch ring worm

Diawali dengan papul eritematosa dan menyebar dengan masuknya jamur ke rambut sehingga mengakibatkan melemahnya rambut dan mengurangi warna rambut (disertai penguraian melanin) sehingga membuat alopesia dan rambut tertinggal berwarna abu-abu keputihan.

2. Black dot ring worm

Diawali infeksi jamur dari batang rambut sendiri. Infeksi ini menyebabkan rambut putus tetapi tidak diikuti dengan perubahan warna rambut sehingga menghasilkan potongan rambut yang tidak rapi.

3. Tinea favosa

Infeksi ini diawali dengan pembentukan vesikel di kulit kepala, setelah itu krusta yang dihasilkan akan membentuk seperti cawan (cekungan ke dalam) dikenal dengan skutula. Skutula tersebut menghilang dengan meninggalkan jaringan parut dan menyebabkan rambut (adneksa kulit) hilang.

4. Kerion

Kerion merupakan infeksi yang berat dimulai dengan pembentukan vesikel multipel. Lesi dikelilingi oleh skuama dan sembuh membentuk sikatriks. Kebotakan permanen akan terjadi pada bekas infeksi karena infeksi turut menyebabkan adneksa kulit terutama rambut rusak berat.

Non – Dermatofit (pitiriasis versikolor / panu)2,4

Penyakit ini disebabkan oleh ragi yang berkembang (Malassezia), ini merupakan flora normal kulit pada folikel polisebaseus. Belum ditemukan alasan jelas kenapa flora normal ini bisa menjadi agen infeksi.  Lesi yang ditimbulkan berupa makula hipopigmentasi, kadang juga disertai skuama halus di atas permukaan. Daerah badan yang tersering terinfeksi adalah badan dan lengan atas (cenderung tidak terpapar sinar matahari). Hipopigmentasi terjadi akibat produksi asam azelaik oleh ragi menghambat tirosinase dalam memproduksi melanin. Infeksi ini jarang terjadi pada daerah tubuh yang sering terpapar matahari. Ultraviolet yang mengenai kulit menjadi faktor pembantu pembentukan melanin walaupun dihambat oleh asam azelaik yang dihasilkan oleh Malassezia.

Referensi:

  1. Siregar, S.R. Penyakit jamur kulit. 2nd ed. Jakarta: EGC; 2004.
  2. Graham, Robin. Burns, Brown Tony. Dermatolgy: lecture notes. 8th ed. Jakarta: Erlangga;2005.
  3. The Center of Public Health and Food Security. Dermatophytosis: ringworm, tinea, dermatomycosis. IOWA State University: May 2005.
  4. New Zealand Dermatological: Pityriasis versicolor. December 2007. Available from: http://www.dermnetnz.org/fungal/pityriasis-versicolor.html.

Lampiran Gambar:

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s