Just another WordPress.com site

Gallery

Kelainan – Kelainan akibat Defisiensi dan Kelebihan Hormon Pertumbuhan

I. Hormon Pertumbuhan (Growth Hormone)

I.I Kekurangan Hormon Pertumbuhan

Kekurangan hormon pertumbuhan dapat disebabkan oleh defek pada hipofisis anterior (hiposekresi) atau pun sekunder yaitu disfungsi hipotalamus (defisiensi GHRH).1 Akibat dari kekurangan hormon ini pada masa anak-anak yaitu cebol (dwarfism). Gambaran utamanya yaitu perawakan yang pendek karena retardasi pertumbuhan tulang. Gambaran penunjang antara lain: gangguan pertumbuhan otot akibat penurunan sintesis protein otot, mobilisasi lemak sub kutis yang minim. Pertumbuhan anak tidak sesuai dengan rentang umur yang tepat, contohnya: ketika berumur 10 tahun, mempunyai tinggi badan yang seharusnya dimiliki oleh anak berumur 5 tahun.

Selain itu dikenal tipe kelainan lain yaitu cebol laron (laron dwarfism).1,2 Pada kelainan ini, gambaran yang tampak pada penderita sama dengan penderita dengan defisiensi hormon pertumbuhan. Tetapi, pada penderita cebol laron ini, kadar hormon pertumbuhan dalam darahnya adekuat seperti orang normal. Cebol laron seperti yang telah dibahas diatas disebabkan karena sensitivitas reseptor hormon pertumbuhan menurusn sehingga efek dari hormon tersebut tidak tercapai secara optimal.Selain itu, cebol laron ini memiliki jenis lain dimana disebabkan oleh defisiensi somatomedin.

Dwarfism berkaitan dengan pubertas dimana mempengaruhi sekresi hormon gonadotropin.2 Apabila defisiensi hormon pertumbuhan sangat parah, penderita bisa mengalami kegagalan untuk pubertas. Akan tetapi, konsentrasi hormon pertumbuhan berada di bawah kadar fisiologis mengalami keterlambatan pubertas.  Kekurangan hormon pertumbuhan pada dewasa (setelah lempeng epifisis menutup) mengalami beberapa gangguan seperti: penurunan kekuatan otot serta penurunan kepadatan tulang.

I.II Kelebihan Hormon Pertumbuhan

Hipersekresi  hormon pertumbuhan paling sering disebabkan oleh tumor pada somatotrof. 1Jika terjadi pada masa anak-anak, gejala utama adalah tinggi yang sangat mencolok (lebih dari 2 meter yaitu gigantisme). Tinggi yang bertambah sangat signifikan ini tanpa mengganggu proporsi tubuh. Kelebihan hormon ini juga mengakibatkan otot yang membesar dan jaringan-jaringan lain ikut tumbuh besar melebihi kapasitas saat normal. Oleh karena itu terapi yang diberikan pada penderita gigantisme ini adalah pengangkatan tumor pada somatotrof (utama) dan pemberian somatostatin (tambahan).

Jika terjadi pada dewasa, kelainan yang diakibatkan berupa akromegali.2 Akromegali ditandai dengan pembesaran ukuran tulang selain tulang pipa. Gejala yang tampak antara lain: penonjolan tulang rahang dan pipi, jari-jari tangan dan kaki menebal. Komplikasi dari kelainan ini adalah gangguan pada saraf perifer dimana terjepitnya saraf-saraft tertentu saat pertumbuhan tulang yang berlebihan. Komplikasi lainnya berupa: gangguan penglihatan dan hipopituitarisme. Gangguan penglihatan disebabkan posisi kelenjar hipofisis berdekatan dengan kiasma optikus; pertumbuhan berlebihan menekan daeerah kiasma ini. Tumor dapat berkembang merusak jaringannya sendiri. Jika dibiarkan dalam waktu yang relatif lama, kelenjar hipofisis akan rusak sendiri (sangat mengancam hidup manusia).

 II. Hormon Tiroid

II.I Kelebihan Hormon Tiroid

Penyebab tersering adalah penyakit Grave (autoimmun) yaitu tubuh membentuk TSI (tiroid stimmulating immunoglobin).1,2 TSI memiliki sel sasaran di sel kelenjar tiroid (reseptor TSH). TSI melakukan hal yang serupa dengan TSH yaitu merangsang sel-sel di kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tersebut. Namun, produksi tiroid akibat distimulasi oleh TSI tidak memiliki kontrol umpan balik negatif, jadi terjadi produksi tiroid secara terus menerus. Kelainan yang sangat jarang prevalensinya adalah sekresi TRH dan TSH yang berlebihan. Penampakan kelenjar tiroid pada penderita secara jelas yaitu hiperplasia dengan pembesaran ukuran 2-3 kali daripada yang normal.

Gejala hipersekresi ini secara umum meningkatkan laju metabolisme basal.2 Pembentukan keringat berlebihan dan penurunan toleransi terhadap panas (tidak tahan terhadap suhu panas). Walaupun nafsu makan meningkat, tetapi tubuh melakukan metabolisme secara berlebihan sehingga menyebabkan degradasi netto cadangan karbohidrat, lemak, dan protein (berat badan turun drastis). Interaksi dengan katekolamin membuat denyut jantung meningkat dan mengalami palpitasi. Hubungan dengan sistem saraf berupa tingkat kewaspadaan yang berlebihan membuat rasa cemas, tegang yang menyebabkan tidak dapat tidur.

Gejala yang ditemukan hanya pada penyakit Grave yaitu eksoftalmos. Penampakan secara jelas berupa mata yang melotot karena posisi bola mata jauh ke depan (sebagian kecil kasus juga menunjukkan kelopak mata tidak dapat menutup sempurna). Eksoftalmos disebabkan edema (. Mukopolisakarida menumpuk di jaringan ekstrasel) pada jaringan retroorbita. Penumpukan ini lah yang mendorong bola mata keluar lepas dari tulang orbita. Terapi yang digunakan pada hipertiroidisme yaitu pengangkatan kelenjar yang mengalami hipersekresi, pemberian iodium radiokatif untuk menghancurkan jaringan kelenjar tiroid, dan pemberian obat anti-tiroid (mengandung SRIH, inhibitor bagi TRH dan propiltiourasil, menghambat pembentukan hormon tiroid).

II.II Kekurangan Hormon Tiroid

Istilah goitter koloid endemik berarti kelenjar tiroid yang membesar diakibatkan kekurangan asupan iodium dalam pembentukan hormon tiroid.2 Kekurangan iodium menghambat pembentukan hormon tiroid, menyebabkan kontrol umpan balik terhadap produksi TSH tidak berjalan optimum.TSH yang disekresi terus menerus mengakibatkan sel di kelenjar tiroid melakukan endositosis tiroglobulin. Tetapi iodium sangat minim, pembentukan hormon tersebut berjalan tidak maksimal sehingga kelenjar tiroid membesar akibat timbunan tiroglobulin di dalam sel.

Gejala klinis nya berupa penurunan laju metabolisme sel menurun. Timbunan polisakarida banyak di interstisial dan arterioklorosis pada pembuluh darah (meningkatnya lipoprotein [ada darah).

Gondok bisa disebabkan oleh kelebihan dari hormon tiroid dan dapat juga disebabkan oleh kekurangan hormon tiroid.1

Referensi:

  1. Sherwood, Lauralee. Fisiologi Manusia : dari sel ke sistem. Jakarta: EGC,2001.
  2. Guyton, Arthur C. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta:EGC;2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s